1.
Saya
ingin berterima kasih kepada Ardhy. Orang yang telah menyiram saya dengan air got pada saat menjelang hari
kelahiran saya. Kami tak pernah berkenalan sebelumnya, namun karena keseringan
bersama akhirnya kami bisa jadi akrab. Hatinya berkata, “Akhirnya saya balas
dendam juga”, karena sebelumnya kusiram dengan segelas air hangat di bokongnya
12 Agustus lalu.
2.
Kepada
Kak Lala. Terima kasih pula karena telah meng-krimbat rambutku dengan tepung
terigu, layaknya tukang salon yang lihai menggunakan tangannya. Sepupu yang
satu ini, angkatan kosong tiga di rumah (H. Sofyan) . Tunggu pembalasanku akhir
September nanti .sepupuku sayang
3.
Untuk
Rini juga terima kasih. Air got depan rumah ikut mengambil peran pada saat ia
menyiramkan ke tubuhku yang tikus (tinggi-kurus). Berlari bak dikejar-kejar
anjing gila sampai akhirnya saya menyerah. Saya diperlakukan seperti musuh
bebuyutannya yang sudah lama ia cari-cari selama bertahun-tahun.
4.
Buat
Kak Asni, kakak (paling) tua yang ada di rumah. Ia dengan gayanya yang sok,
menyuruh saya membuang sampah di samping rumah. Ternyata itu adalah bagian dari
scenario untuk menjebak saya. Dengan lugunya saya mengiyakan permintaannya.
Wajah sok polos yang tersirat di balik mukanya tak dapat kumaknai bahwa itu
merupakan aktingnya. Terima kasih
5.
Anggi.
Kupanggil dia Dek Anggi karena usianya yang lima tahun di bawah saya. Masih
sangat belia. Ikut serta dalam menyiram saya dengan air got. Terima kasih
6.
Teruntuk
Yahya. Tetap Kuucapkan terima kasih meski tak berbuat seperti yang dilakukan
kelima orang di atas. Ia sibuk dengan mimpi indahnya bersama Eka (nama
pacarnya). Pilihan yang sangat bijak.
7.
Kepada
Kak Ulil (Pacar Kak Lala). Terima kasih juga telah menjadi orang pertama yang
mengirimkan pesan lewat ponsel saat jarum jam menunjukkan angka 01.00 am.
Melalui percakapan tadi malam, ia menyuruh saya menyebutkan tiga hal yang
kuinginkan untuk diberi olehnya. Sebagai calon sepupu ipar yang baik, lantas
saya menuruti perintahnya. Doaku dalam hati, semoga ia mengabulkan
permintaanku.
8.
Asriadi,
tapi lebih akrab disapa Kak Asri. Dia pacar dari kakak tertua (Kak Asni). Tak
kusangka ia menepati janjinya. Memberiku sebuah boneka. Doraemon bentuknya.
Saya heran darimana ia menemukan ide untuk memberiku hadiah boneka. Mungkin
karena sebagian wanita suka dihadiahi sebuah boneka lalu diberlakukan pula
untuk saya. Terima kasih kak. Ini boneka kedua yang kumiliki sejak aku lahir
sampai sekarang. Saya terharu dan tak lupa kuucapkan terima kasih. Mengenai
janjiku untuk memberimu kado (juga), saya berusaha untuk menepatinya namun
tidak sekarang tapi nanti. Saya selalu percaya bahwa Tuhan telah merencanakan
hari dimana hal itu akan terjadi.
9.
Untuk
Dhava (Pacar Rini) terima kasih juga. Melalui kekasihnya, ia menyampaikan
ucapan selamat ulang tahun untuk saya.
10.
@Mentari_JP
adalah akun twitternya. Nuna sapaanku padanya. Walaupun persembahan yang kau
berikan lewat radio profesi tadi malam tak sempat kudengar, tapi terima kasihku
padamu tetap kuucapkan.
11.
Special
untuk teman lamaku, Chica, Bau, dan Bidang. Terima kasih yang sebesar-besarnya
sudah menjadi bagian dari hidupku selama ini. Meski tak memberiku apa-apa
selain ucapan dan doa, bagiku itu sudah lebih dari cukup.
12.
EMS.
Erick Manase Sambo. Salah seorang dari keempat lelaki di kelas saya. Hanya
dia yang mengirimkan ucapan lewat SMS menggunakan dua nomor yang berbeda.
Terima kasih kawan. Gantungan kuncinya kutunggu.
*berat tanganmu kah?? Mari saya bantu pegang
13.
Untuk
teman-teman yang namanya tak bisa kuucapkan satu persatu, terima kasih karena
telah menyempatkan diri untuk sekadar mengirimkan tiga huruf di dinding
facebook-ku (Hbd), lalu dibumbuhi dengan kata “Ditunggu traktirannya!!”.
14.
Dan
untuk semua orang yang telah membuat kesan berarti di usiaku yang telah
menginjak 19 tahun, baik yang telah kusebutkan namanya maupun yang yang tidak,
TERIMA KASIH.
15.
Sesuai
dengan angka kelahiran saya, kutempatkan dia di posisi terakhir. Selain itu
karena saya ingin dia jadi yang terakhir dan jadi pasangan hidupku.
Untuk
teman yang kukenal sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama sampai
sekarang. Tak ada kata lagi yang
layak tuk diucapkan padanya selain rasa
terima kasihku. Dan tak ada pula kata yang mampu menggambarkan betapa
bahagianya hatiku saat dia berkata akan menemuiku setelah salat jumat kemarin.
Teriknya matahari di kota Daeng dan jarak yang bisa dibilang cukup jauh, tak
menyurutkan niatnya untuk bertemu. Tepat pukul dua siang dia datang. Dengan
potongan rambut baru mengingatkan saya memori dua tahun silam saat saya masih
SMA. Rapi dan bersih. Dua kata yang menggambarkan dirinya. Tak sama seperti
hari-hari sebelumnya yang acak-acakan bukan main. Rambutnya yang dibiarkan
tumbuh sampai bahu. Oh, sungguh! Dia duduk dan kuseduhkan minuman berwarna
putih setelah beberapa menit. Lama berbincang, dia menyuruhku membuka sebuah
bingkisan yang dibawanya. Lantas kubuka dan kutemukan sebuah benda di dalamnya.
Warnanya indah. Kubuka lagi kain berwarna biru di dalamnya. Bentuknya seperti
buku. Tebal sekali. Setelah membolak-balik, kutemukan kalimat, AL QUR’NULKARIM
SPECIAL FOR WOMAN”. Degub jantungku makin berdebar. Alquran rupanya. Tak ada
dugaan sebelumnya dia akan memberiku kitab suci. Karena sebelumnya dia
menyatakan bahwa hadiah yang akan diberikan padaku tidak jauh dari
kehidupannya. Buku, iya buku. Karena itu di pikiranku terbayang beberapa macam
buku bacaan. Namun semuanya buyar setelah kudapati buku yang dia maksud
ternyata Alquran. Meski cara memakainya sama dengan membaca buku biasa tapi ada
hal yang berbeda. Tak sampai disitu, ternyata terdapat pula selembar kertas
bergaris berisi puisi yang diberinya judul “………………” (rahasiaku). Lalu dia
membacakannya untukku. Ada hal yang menjadi rutinitas yang belakangan ini dia lakukan.
“Jangan pernah percaya atas semua yang telah kuucapkan tadi karena semuanya
adalah kebohongan”. Ketika kalimat ini
terucap artinya pertemuan pun usai. Dia selalu mengakhiri perbincangannya
dengan mengucapkan kalimat itu. Dia
pamit. Lalu bersalaman dan kucium tangannya (salah satu hal yang bagiku
berkesan di ujung pertemuanku dengannya). “Terima kasih kadonya. Hati-hatiki
nah”, ucapku sambil melambaikan tangan mengikuti laju sepeda motornya.